KAMMI SAMARINDA Tantang Walikota Baru Atasi Banjir Samarinda

Oleh : Aulia Furqon (kader KAMMI Samarinda)

​Banjir di Kota Samarinda, bukan merupakan hal yang baru bahkan terjadi hampir setiap tahun. Faktor utama yang mengundang bencana ini adalah daerah resapan yang semakinsempit, kondisi drainase yang tidak jelas serta dipenuhisampah, curah hujan tinggi, dan perilaku masyarakat yang buang sampah sembarangan. Tugas berat yang harus dipikuloleh Walikota dan wakil walikota Samarinda yang baru yaitumengatasi Kota Samarinda dari banjir, terlebih dengan salah satu janji politiknya untuk mengatasi banjir.

Logika sehat mana yang bisa mengartikan daerah yang dahulunya memiliki banyak rawa-rawa, di kelilingi sungai dan memiliki banyak pohon kini setiap hujan turun beberapa titikdi daerahnya langsung tenggelam banjir.

Fenomena pemanasan global, perubahan iklim, dan kerusakanlingkungan menuntut Walikota baru melakukan langkah nyataterhadap perubahan tata kelola air berkelanjutan. Kota Samarinda menghadapi tantagan percepatan konservasi tata guna lahan dan air tanah, erosi, sedimentasi, system saluranair yang buruk serta penyusutan sungai dan situ, danau, embung, dan waduk (SDEW)

Wilayah wilayah yang tadinya menjadi tangkapan air hujankini hanya tinggal cerita, Kecilnya ruang terbuka hijau di Samarinda [tidak sampai 1 persen, hanya 00,9 persen, atausekitar 650 hektar] dan kawasan tangkapan air yang hancurmenyebabkan bencana banjir ini datang. Banyak juga penampakan perbukitan di pinggiran Kota Samarinda yangdihancurkan untuk aktivitas tambang, seperti Gunung Kapur, Gunung Rotan, serta Gunung Lampu di Makroman.

Pandemi COVID19 sudah cukup membuat masyarakatSamarinda gelisah ditambah lagi banjir yang terus menghantuiketika musim hujan datang. Banjir melanda pemukimanpenduduk maupun jalan raya. Aktivitas perekonomian jelasterganggu, akses menuju bandara pun terputus, kerugianmaterial pasti tidak sedikit, aktivitas pegawai/pekerja jelasterkendala, termasuk aktivitas pelajar dan mahasiswa tidakakan bisa berjalan sebagaimana yang seharusnya.

Perlu di ingat penanganan parsial tidak akan dapat mengatasibanjir di Samarinda, karena air tak pernah mengenal bataswilayah

Wali kota dan wakil walikota Samarinda yang barudituntut tegas jika ingin merealisasikan janji politiknya dalammengatasi banjir, dengan membuat kebijakan yang ketat di mana para investor harus memenuhi persyaratan dan ketentuan guna menjaga ketersediaan lahan hutan di Samarinda, sehingga dapat meminimalisir pembukaan lahansecara ilegal. Peran Andi harun dan rusmadi selakupemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk lebihselektif dalam mengevaluasi izin alih fungsi lahan yang dikeluarkan. Dalam hal ini, pemerintah kota Samarinda harusmendesak pemerintah provinsi untuk mencabut izinperusahaan jika terbukti menjadi faktor pemicu terjadinyabanjir di Samarinda. Hal ini perlu mendapatkan perhatianlebih dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalammelakukan koordinasi pencegahan, penanganan dan penanggulangan bencana alam.

Jangan tunggu masyarakat Samarinda terendam banjir barumulai bereaksi, bergeraklah walikota baru Samarinda mulaihari pertama anda di lantik , KAMMI Samarinda Bersama masyarakat akan mengawal janji politik dan kinerja walikotadan wakil walikota samarinda sampai akhir kepengurusan.

Dari Rutinya Kejadian banjir di Samarinda sangat di perlukankehadiran negara dalam pengambilan langkah-langkahmitigasi bencana yang menyangkut keselamatan masyarakatsetempat.

Maka dari itu kami menantang Walikota dan wakil walikotaSamarinda untuk mengatasi banjir di kota Samarinda dengansebai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.