Takalar, Celebestoday.com – Dinas Peternakan Kabupaten Takalar terus menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, khususnya para peternak.
Terlihat Kantor Dinas Peternakan yang berlokasi di Jalan Syekh Yusuf No. 3B, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Rabu (29/04/2026).
Kedatangan media disambut oleh Kasubag Perencanaan Bachtiar Daeng Romo yang langsung mengarahkan ke bagian umum untuk memperoleh informasi terkait kepegawaian.
Di ruang Subbagian Umum dan Kepegawaian, Haslinda terlihat tengah bekerja sambil memegang mouse dan menatap layar komputer saat ditemui.
Ia menjelaskan jumlah pegawai yang ada di lingkup Dinas Peternakan Takalar.
“Jumlah PNS sebanyak 26 orang dan PPPK 19 orang, jadi total 45 pegawai,” ujar Haslinda.
Selain itu, kata dia, setiap kecamatan memiliki dua petugas peternakan yang siap melayani masyarakat.
“Bahkan ada satu petugas yang harus mengoordinir dua kecamatan sekaligus,” tambahnya.
Sementara itu, Petugas Peternakan Kecamatan (PPK) sekaligus Inseminator, Abdul Kadir Daeng Rewa, baru saja tiba di kantor usai melakukan monitoring lapangan.
Ia mengaku baru kembali dari pengecekan mesin penetas milik salah satu peternak di Kelurahan Panrannuangku, Kecamatan Polongbangkeng Utara.
“Baru saja dari monitoring mesin penetas milik Daeng Tumpu di Panrannuangku,” ujarnya.
Abdul Kadir menegaskan bahwa pelayanan peternakan harus siap dilakukan kapan saja, termasuk di luar jam kerja.
“Kami harus siap 24 jam karena ini menyangkut nyawa hewan ternak,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, tidak jarang peternak menghubunginya pada tengah malam saat sapi sakit atau hendak melahirkan.
“Kalau terlambat ditangani, risikonya bisa besar bagi peternak,” katanya.
Menurutnya, kehadiran petugas juga memberikan ketenangan bagi peternak, terutama yang masih baru.
“Peternak sering panik, jadi kehadiran kami itu penting untuk menenangkan mereka,” jelasnya.
Dalam hal layanan kelahiran, Abdul Kadir menyebut saat ini rata-rata hanya menangani dua hingga tiga kasus per bulan.
“Dulu sebelum wabah PMK, bisa sampai lima sampai enam kelahiran per hari,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan fenomena distokia atau kesulitan melahirkan yang kerap terjadi pada sapi hasil persilangan.
“Biasanya terjadi pada Sapi Bali yang disilangkan dengan sapi besar seperti Simmental, karena ukuran anaknya lebih besar,” terangnya.
Terkait penyakit hewan, Abdul Kadir memastikan kondisi saat ini sudah jauh lebih terkendali.
“PMK dan Jembrana sekarang sudah jauh lebih terkendali dibanding sebelumnya,” katanya.
Ia menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari program vaksinasi dan meningkatnya kesadaran peternak.
“Sekarang peternak sudah lebih cepat melapor jika ada gejala penyakit,” ujarnya.
Dalam proses Inseminasi Buatan (IB), ia mengibaratkan metode tersebut seperti bayi tabung pada manusia.
“IB itu seperti kawin suntik, mirip proses bayi tabung,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya ketepatan waktu dalam proses inseminasi agar hasilnya optimal.
“Kalau sapi birahi pagi, sebaiknya disuntik sore hari supaya peluang berhasil lebih tinggi,” katanya.
Abdul Kadir juga memaparkan strategi alami dalam menentukan jenis kelamin anak sapi.
“Kalau mau betina, lakukan di awal birahi. Kalau mau jantan, di akhir masa birahi,” jelasnya.
Ia berharap ke depan para peternak semakin mandiri dalam mengelola ternaknya.
“Harapannya peternak lebih paham soal pakan dan kesehatan hewan,” tuturnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas ternak melalui IB juga berdampak langsung pada ekonomi masyarakat.
“Kalau kualitas ternak bagus, tentu pendapatan peternak juga meningkat,” pungkasnya.
(Red)

