Takalar, Celebestoday.com – Pemerintah Kabupaten Takalar resmi meluncurkan program Aksi Sistematis Masyarakat untuk Tuntaskan TBC atau ASSAMATURU Bebas TBC di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 26, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Rabu (17/6/2026).
Program tersebut mengusung tema “Bersama Kita Wujudkan Takalar Bebas TBC 2030” dengan melibatkan para Duta ASSAMATURU yang akan bergerak di seluruh desa dan kelurahan.
Peluncuran program dipimpin langsung Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye.
Turut hadir Wakil Bupati Takalar Hengky Yasin, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar dr Nilal Fauziah, para camat se-Kabupaten Takalar, kepala puskesmas, kepala desa, lurah, kader kesehatan, serta para Duta ASSAMATURU.
Para kepala puskesmas tampak mengenakan seragam Korpri, sementara para duta mengenakan kaos lengan panjang berwarna oranye.
Dalam sambutannya, Daeng Manye mengapresiasi inovasi yang digagas Dinas Kesehatan Takalar dalam upaya mempercepat penanganan penyakit Tuberkulosis.
Menurutnya, program tersebut merupakan langkah nyata yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Ini satu langkah yang sangat taktis di lapangan karena langsung diimplementasikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Daeng Manye.
Ia mengungkapkan berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar saat ini terdapat lebih dari 1.200 penderita TBC yang telah terdata.
Jumlah tersebut tersebar di sejumlah kecamatan dengan konsentrasi kasus cukup tinggi di wilayah Pattallassang, Sanrobone, dan Galesong.
Daeng Manye menjelaskan bahwa mayoritas kasus TBC yang ditemukan merupakan TBC paru yang bersifat menular melalui percikan dahak dan media udara.
Karena itu, ia meminta masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Kalau ada gejala batuk terus-menerus, segera ke puskesmas atau dokter agar dapat diperiksa dan ditangani lebih cepat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan selama enam bulan tanpa terputus.
Menurutnya, pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya berisiko mengulang kembali proses terapi dari awal.
Dalam kesempatan tersebut, Daeng Manye menegaskan ASSAMATURU yang berarti kebersamaan dan gotong royong menjadi semangat utama dalam gerakan penuntasan TBC di Takalar.
Pemerintah Kabupaten Takalar menargetkan penurunan kasus TBC hingga 50 persen pada tahun 2030 melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis masyarakat.
Ia menilai angka kasus yang saat ini terdata kemungkinan masih lebih rendah dibanding kondisi sebenarnya di lapangan.
Karena itu, proses pendataan, skrining, dan pelacakan kasus harus terus diperkuat hingga ke tingkat rumah tangga.
“Fenomena TBC ini seperti gunung es. Yang terlihat hanya sebagian, sementara yang belum teridentifikasi bisa jadi jauh lebih banyak,” katanya.
Untuk mendukung upaya tersebut, sebanyak 110 Pos TBC dibentuk di seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Takalar.
Pos tersebut akan menjadi pusat informasi, edukasi, serta layanan awal bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan terkait TBC.
Para Duta ASSAMATURU yang telah dikukuhkan akan menjadi ujung tombak dalam melakukan pendataan, edukasi, dan pendampingan pasien di wilayah masing-masing.
Mereka juga bertugas melakukan pemetaan rumah tangga yang berpotensi menjadi lokasi penularan penyakit TBC.
Selain mengidentifikasi pasien, para duta diharapkan mampu memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat, sanitasi lingkungan, dan pencegahan penularan penyakit.
Daeng Manye menekankan bahwa kondisi lingkungan yang kurang sehat dan sanitasi yang buruk menjadi salah satu faktor yang mempercepat penyebaran TBC.
Karena itu, penanganan TBC tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga perbaikan lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung sistem pelaporan, pendataan pasien, pemantauan pengobatan, hingga evaluasi program secara berkala.
Menurutnya, digitalisasi akan memudahkan pemerintah memantau perkembangan kasus serta memastikan pasien mendapatkan layanan yang tepat.
Daeng Manye memastikan pemerintah daerah akan melakukan evaluasi rutin setiap tiga bulan guna mengukur efektivitas gerakan ASSAMATURU Bebas TBC.
“Komitmen kita jelas, prevalensi TBC harus turun dan target 50 persen pada tahun 2030 harus tercapai,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar dr Nilal Fauziah mengatakan ASSAMATURU Bebas TBC merupakan salah satu inovasi daerah dalam mendukung program eliminasi TBC nasional.
Ia menjelaskan filosofi ASSAMATURU bermakna bekerja sama dan bergerak bersama untuk menuntaskan TBC di Kabupaten Takalar.
“Kami berharap melalui gerakan bersama ini Takalar dapat bebas TBC dengan melibatkan seluruh stakeholder heptahelix, mulai dari pemerintah, swasta, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, akademisi, hingga seluruh elemen masyarakat,” ujar dr Nilal.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat.
Dengan kolaborasi yang kuat dan gerakan yang terstruktur hingga tingkat desa, Pemerintah Kabupaten Takalar optimistis target Takalar Bebas TBC 2030 dapat diwujudkan.
(Red)

